ANALISIS PENINGKATAN PREVALENSI KASUS MALARIA DI
DESA BEJI, KECAMATAN BANJARMANGU, KABUPATEN BANJARNEGARA
Aprilia Safitri, Yudha Kurnia S., Anang Suryanto, Wahyu
P. dan Rita A.
Politeknik Banjarnegara, Jawa Tengah
ABSTRAK
Malaria
masih menjadi persoalan yang utama di Indonesia. Data Annual
Parasit Insiden (API) untuk wilayah Jawa dan Bali dari tahun 2004 – 2008 adalah
21,74‰, 19,61‰, 19,32‰, 16,44‰ dan 13,8‰. API di wilayah Kabupaten Banjarnegara adalah 0,38‰, meskipun rendah
tetapi pada bulan Mei 2009 telah terjadi KLB malaria,
tepatnya di Desa Beji, Kecamatan
Banjarmangu dengan 34 kasus malaria.
Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui peningkatan prevalensi dan distribusi kasus malaria di Desa Beji,
Kecamatan
Banjarmangu, Kabupaten
Banjarnegara. Pembuatan
sediaan darah tebal dilakukan di Dukuh
Bendawuluh, Desa Beji pada semua penduduk dengan
gejala malaria dan tanpa gejala yang berada dalam satu rumah dengan penderita
malaria. Sediaan
darah diwarnai dengan giemsa 10% dan diidentifikasi dengan mikroskop. Analisis
data dilakukan secara deskriptif dalam bentuk grafik dan
tabel.
Kasus malaria yang
terjadi di Desa Beji, Kecamatan
Banjarmangu menunjukkan terjadinya peningkatan kasus 2 kali
berturut-turut dari bulan sebelumnya sehingga dinyatakan sebagai suatu Kejadian Luar Biasa dengan jumlah 34 kasus positif malaria. Kasus
malaria lebih dominan pada laki-laki (59%) dari pada perempuan (41%) dan golongan umur dewasa (> 15 tahun). Spesies
parasit yang ditemukan adalah Plasmodium
vivax stadium ring (74%) dan stadium ring gametosit
(26%). Upaya
pengendalian dapat dilakukan dengan peningkatan surveilans
dan penemuan penderita sedini mungkin.
Key words :
Prevalensi, Malaria, Peningkatan.
ABSTRACT
Malaria has been becoming the
main problem in Indonesia. It’s can be
seen by the Annual Parasit Insiden (API)
in Jawa and Bali at 2004 to 2008 that indicate 21,74‰, 19,61‰, 19,32‰, 16,44‰ and 13,8‰. API in Banjarnegara
is 0,38%. Although it is low enough but on May, 2009 reports
KLB malaria in Beji village, Sub District of Banjarmangu, Regency of
Banajrnegara with 34 cases.
This research was conducted to
assess the increase of prevalence and distribution of malaria cases on Beji
village, Sub District of Banjarmangu, Regency of Banajrnegara. The blood samples were taken from Bendawuluh vilagers, Beji village, Sub
District of Banjarmangu, Regency of Banjarnegara. The samples are those who have been predicted
whether person with malaria symptoms or not but live together with the infected
people. Blood samples were mixed with
10% giemsa and observed with microscope.
The data were analized descriptivelely in the form of graph and table.
Malaria cases that happened in
Beji village, Sub District of Banjarmangu
show the increase of the cases 2 times than the last month so that it
can be assumed as KLB with 34 victims that being infected by malaria. The cases domination happened on adult man (59%)
lower than woman (41%). The species
parasite which is being found was Plasmodium vivax whether on ring stadium (74%)
or ring gametosit stadium (26%). There
are some ways can be done to control malaria, such as surveillance increasement
and found the infected people as soon as possible.
Key words : Prevalensi, Malaria, Increase.
PENDAHULUAN
Malaria masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang belum terselesaikan(2). KLB (Kejadian Luar Biasa) malaria tahun 2000
terjadi di sebagian besar wilayah
Indonesia termasuk di Kabupaten
Banjarnegara.
Kabupaten Banjarnegara sebagai wilayah endemis malaria di Provinsi Jawa Tengah dengan angka kejadian malaria atau API (Annual Paracyte Insident) 3
tahun terakhir (tahun 2006 - 2008) yaitu 0,06‰, 0,05‰, 0,04 ‰. Meskipun
terjadi penurunan kejadian malaria di Kabupaten Banjarnegara, akan
tetapi pada tahun 2009 pernah terjadi peningkatan kasus malaria sebanyak 363 kasus.
Dukuh Bendawuluh, Desa Beji,
Kecamatan Banjarmangu merupakan
daerah endemis malaria yang memberikan sumbangan terbesar terhadap angka
kejadian malaria di Kabupaten Banjarnegara. Peningkatan
kasus terjadi pada bulan Mei 2009 dengan jumlah kasus 34 orang yang diperiksa positif malaria dengan Plasmodium vivax. Kasus
ini merupakan kasus impor yang berawal dari penderita
asal Bangka Belitung yang terjadi pada bulan April dan di Desa Beji terdapat
vektornya sehingga kasus ini dapat menyebar. Setelah itu ditemukan adanya penderita malaria
dalam bentuk Plasmodium
vivax ring gametosit (Pvrg).
Berdasarkan permasalahan
tersebut maka dilakukan surveilans
epidemiologi dengan melakukan pengambilan dan pemeriksaan sediaan darah tebal
di Dukuh
Bendawuluh. Pengambilan sediaan darah dilakukan terhadap orang
yang menunjukkan gejala malaria maupun orang yang sehat tetapi berada dalam satu rumah
dengan penderita.
TUJUAN
Umum
Mengetahui peningkatan
prevalensi kasus malaria di Desa Beji, Kecamatan Banjarmangu.
Khusus
1.
Mengetahui distribusi kasus
malaria berdasarkan waktu, tempat, dan orang.
2.
Mengetahui spesies parasit
malaria di Desa Beji.
3.
Mengetahui Monthly Paracyte Incidence (MoPI) di daerah tersebut.
METODE
Lokasi Penelitian
Kegiatan penelitian ini dilakukan di Desa Beji, Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara. Objek penelitian ini adalah penduduk di Desa Beji dengan
gejala malaria atau orang sehat yang satu rumah dengan penderita.
Pembuatan dan Diagnosis Sediaan Darah Tebal
Cara membuat sediaan darah tebal yaitu dipegang jari manis atau tengah tangan kiri pasien
dan ujung jari dibersihkan dengan kapas beralkohol. Ujung
jari bagian pinggir ditusuk dengan cepat menggunakan lanset. Darah pertama yang keluar dibersihkan dengan kapas
kering untuk menghilangkan sel darah yang membeku dan bebas dari alkohol. Ujung jari ditekan sampai tetes darah yang kedua keluar. Diambil 2
– 3 tetes darah dan ditempatkan pada kaca sediaan,
kemudian tetes darah tersebut dihomogenkan dengan
ujung kaca sediaan lain secara perlahan-lahan sampai menyatu dan membentuk bulatan dengan diameter ± 1 cm. Kaca sediaan dikeringkan dalam suhu kamar. Kaca sedian yang kering diletakkan di rak
pewarnaan. Larutan giemsa dibuat dengan perbandingan 1:7 (1
tetes giemsa dicampurkan dengan 7 tetes akuades) untuk satu sediaan darah. Larutan giemsa dituangkan sampai menutupi seluruh permukaan sediaan darah
dan diamkan
selama ± 15 menit.
Kaca sediaan diangkat dan dibersihkan dengan air
mengalir sampai semua endapan elemen-elemen zat warna terlepas. Sediaan darah dikeringkan pada suhu kamar dan setelah kering pemeriksaan
dapat dilakukan (3,4).
Pemeriksaan sediaan darah dilakukan menggunakan
mikroskop dengan perbesaran lensa obyektif 100x dan lensa okuler 10x. Sediaan darah dinyatakan positif apabila ditemukan stadium Plasmodium dan negatif apabila dalam 100
lapang pandang tidak ditemukan stadium Plasmodium
(5). Metode semi-kuantitatif untuk hitung parasit pada
sediaan darah tebal adalah sebagai berikut (5) :
+ = 1-10 parasit per 100
lapang pandang.
++ = 11-100 parasit per 100
lapang pandang.
+++ = 1-10 parasit per 1 lapang
pandang.
++++ = > 10 parasit per 1 lapang
pandang.
Menghitung MoPI
Angka kasus malaria perbulan (MoPI) diperoleh dengan cara membagi
jumlah kasus malaria positif satu bulan dengan jumlah seluruh penduduk pada
bulan tersebut dikali 1000 penduduk.
|
MoPI =
|
Jumlah kasus
malaria positif 1 bulan
|
x 1000
|
|
Jumlah penduduk
pada bulan tersebut
|
HASIL DAN PEMBAHASAN
Distribusi Kasus Malaria berdasarkan waktu
Jumlah penduduk di Desa Beji
pada tahun 2009 adalah 2444 jiwa. Hasil pengambilan sediaan darah terhadap 479 orang dengan
gejala demam dan dinyatakan positif malaria 34 orang (hasil pemeriksaan
mikroskop) sehingga didapatkan hasil SPR (slide
positif rate) 9,39 %.
Grafik 1.
Frekuensi kasus Malaria per bulan di Desa Beji Tahun 2009
Awal munculnya kasus malaria di Desa
Beji yaitu pada bulan April dengan
jumlah 15 kasus. Selanjutnya, pada bulan Mei mengalami peningkatan sebanyak 34
kasus, pada bulan Juni sampai bulan Desember kasus berangsur-angsur menurun
sampai akhirnya tidak terdapat kasus lagi. Grafik 1
menunjukkan bahwa puncak penularan
terjadi pada bulan Mei. Penetapan
kasus menjadi KLB di Desa Beji didasarkan pada data yang menunjukkan terjadinya
peningkatan kasus 2 kali berturut-turut dari bulan sebelumnya. Hasil pengambilan sediaan darah dari 479 penduduk, 34 dinyatakan
positif malaria dan seluruhnya terdapat di Dukuh Bendawuluh.
Distribusi Kasus Malaria Berdasarkan Tempat
Tabel 1.
Distribusi kasus Malaria menurut tempat tahun 2009
|
No
|
Tempat/Dukuh
|
Jumlah Kasus
|
Prosentase
|
|
1
|
Kalijambe
|
2
|
3,6%
|
|
2
|
Tiparan
|
0
|
0%
|
|
3
|
Krajan
|
0
|
0%
|
|
4
|
Bendawuluh
|
54
|
96,4%
|
|
Jumlah
|
56
|
100%
|
Distribusi kasus malaria di Desa Beji tertinggi di Dukuh Bendawuluh
yaitu 96,4 %. Hal ini dapat dijelaskan bahwa awal terjadinya
kasus dan penularan terjadi di Dukuh Bendawuluh dengan proporsi stadium ring terbanyak. Sedangkan di dukuh lain yaitu
Kalijambe
hanya ada 2 kasus (3.6%) kasus malaria.
Distribusi Kasus Malaria Berdasarkan Jenis Kelamin dan
Umur
Tabel 2. Distribusi
kasus Malaria menurut umur dan jenis kelamin
|
No
|
Golongan umur
|
Jenis kelamin
|
Jumlah
|
Prosentase
|
|
Laki-laki
|
Perempuan
|
|
1
|
< 1
|
0
|
1
|
1
|
2,9%
|
|
2
|
1 – 5
|
2
|
0
|
2
|
5,8%
|
|
3
|
6 – 10
|
4
|
1
|
5
|
14,7%
|
|
4
|
11 – 14
|
3
|
3
|
6
|
17,7%
|
|
5
|
> 15
|
11
|
9
|
20
|
58,9%
|
|
Jumlah
|
20
|
14
|
34
|
100%
|
Gambar
1. Proporsi kasus malaria berdasarkan jenis kelamin
Penderita malaria terbanyak pada
jenis kelamin laki-laki (59%) dibandingkan
perempuan (41%). Hal
ini dapat dimengerti karena
penduduk laki-laki lebih banyak memiliki aktifitas pada malam hari seperti ronda malam, pengajian, menonton TV sampai larut malam, sehingga kemungkinan untuk
tergigit nyamuk vektor malaria lebih besar.
Tabel 2 menunjukan golongan umur dewasa (> 15 tahun) lebih
banyak yang terserang malaria. Kasus
malaria pada golongan umur 0-1 tahun
menunjukan masih terjadinya penularan setempat dan di dalam rumah.
Proporsi
spesies Plasmodium
Gambar 2. Proporsi Plasmodium vivax ring (Pvr) dan Plasmodium
vivax ring gametosit (Pvrg)
Berdasarkan hasil pemeriksaan mikroskopis dapat diketahui bahwa kasus malaria di Desa Beji adalah P. vivax. P.
vivax ditemukan dalam
stadium ring dengan proporsi 74% (25 kasus) dan
stadium ring gametosit dengan proporsi 26%
(9 kasus). Kasus malaria di Desa Beji dikatakan terlambat
ditangani karena pada kasus pertama sampai ditemukan stadium gametosit di dalam
sediaan darah penderita. Keterlambatan
penanganan kasus ini dapat menyebabkan penularan terhadap orang lain yang berada disekitarnya. Prinsip dasar pengobatan malaria vivax adalah
pengobatan radikal yang ditujukan terhadap stadium hipnozoid di sel hati dan
stadium lain yang berada di eritrosit (5). Malaria
dengan P. vivax apabila tidak diobati secara tuntas menyebabkan parasit Plasmodium
yang ada dalam tubuh dapat hidup lebih lama dan dapat kambuh atau relaps. Kasus relaps dapat terjadi apabila kondisi tubuh penderita malaria sedang tidak
sehat. Untuk mencapai stadium gametosit, P. vivax membutuhkan waktu yang cukup lama yaitu sekitar 12 – 17 hari (5). Adanya penderita dalam stadium ring menunjukan masih terjadi penularan setempat
sedangkan ditemukannya stadium gametosit penderita
terlambat ditemukan.
Upaya pemutusan rantai penularan kasus dapat dilakukan dengan pengendalian
vektor dan pengobatan pada penderita secara berkelanjutan.

Grafik 2. MOPI Desa Beji 2009
Grafik 2 menunjukan MoPI Desa Beji pada bulan Mei 2009 adalah 13,9
‰. Angka MoPI berangsur-angsur menurun pada bulan selanjutnya seiring
dengan menurunnya kasus malaria.
Berdasarkan analisis data diatas, tindakan yang
paling tepat dilakukan untuk memutuskan rantai penularan malaria adalah dengan
peningkatan penemuan kasus sedini mungkin dan survailans pengobatan yang berkelanjutan sehingga
tidak menimbulkan kasus relaps.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian tersebut di atas
dapat disimpulkan bahwa kasus malaria di Desa Beji, Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara mengalami peningkatan pada awal
bulan Mei tahun 2009, dengan jumlah kasus positif malaria sebanyak 34. Penderita malaria lebih banyak menyerang laki-laki dengan golongan umur
dewasa (> 15 tahun). Kasus malaria berdasarkan spesiesnya disebabkan
oleh Plasmodium vivax dengan proporsi
stadium ring (74%) dan stadium ring gametosit (26%). MoPI tertinggi pada bulan Mei sebesar 13,9‰. Upaya yang dapat dilakukan untuk memutuskan rantai
penularan adalah penemuan penderita sedini mungkin dan peningkatan survailans.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Lokalitbang P2B2
Banjarnegara, Dinas Kesehatan Kabupaten Banjarnegara dan Puskesmas 2
Banjarmangu. Kami juga mengucapkan
terima kasih kepada Desa Beji serta para teknisi yang telah membantu dalam
penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
(2) Chadijah
S., Y. Labatjo, T.A.Garjito, Y.Wijaya, Y.Udin. 2006. Efektifitas Diagnosis
Mikroskopis Malaria Di Puskesmas Donggala, Puskesmas Lembasada, Dan Puskesmas
Kulawi, Provinsi Sulawesi Tengah. Jurnal
Ekologi Kesehatan 1
(5) : 385 – 394.
(3)
Depkes
RI. 1999. Modul Parasitologi Malaria 2.
Jakarta : Dirjen PPM dan PLP. hlm 26-28.
(4)
Husaini,
Makmur. 1992. Laboratorium
Diagnostik Malaria Masa Kini. Cermin Dunia
Kedokteran, Edisi Khusus No. 80, 1992.
hlm 150.
(5) Inge
Susanto, Wita Pribadi dalam
Parasitologi Kedokteran. 2008. Parasit Malaria.
Jakarta : Balai Penerbit FKUI. hlm 198-199, 206.