Senin, 04 Februari 2013

ANALISIS PENINGKATAN PREVALENSI KASUS MALARIA DI DESA BEJI, KECAMATAN BANJARMANGU, KABUPATEN BANJARNEGARA


ANALISIS PENINGKATAN PREVALENSI KASUS MALARIA DI DESA BEJI, KECAMATAN BANJARMANGU, KABUPATEN BANJARNEGARA

Aprilia Safitri, Yudha Kurnia S., Anang Suryanto, Wahyu P. dan Rita A.
Politeknik Banjarnegara, Jawa Tengah

ABSTRAK
              Malaria masih menjadi persoalan yang utama di Indonesia.  Data Annual Parasit Insiden (API) untuk wilayah Jawa dan Bali dari tahun 2004 – 2008 adalah 21,74, 19,61, 19,32, 16,44dan 13,8.  API di wilayah Kabupaten Banjarnegara adalah 0,38, meskipun rendah tetapi pada bulan Mei 2009 telah terjadi KLB malaria, tepatnya di Desa Beji, Kecamatan Banjarmangu dengan 34 kasus malaria.
             Penelitian ini bertujuan untuk  mengetahui peningkatan prevalensi dan distribusi kasus malaria di Desa Beji, Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten BanjarnegaraPembuatan sediaan darah tebal dilakukan di Dukuh Bendawuluh, Desa Beji pada semua penduduk dengan gejala malaria dan tanpa gejala yang berada dalam satu rumah dengan penderita malaria.  Sediaan darah diwarnai dengan giemsa 10% dan diidentifikasi dengan mikroskop.  Analisis data dilakukan secara deskriptif dalam bentuk grafik dan tabel.
                Kasus malaria yang terjadi di Desa Beji, Kecamatan Banjarmangu menunjukkan terjadinya peningkatan kasus 2 kali berturut-turut dari bulan sebelumnya sehingga dinyatakan sebagai suatu Kejadian Luar Biasa dengan jumlah 34 kasus positif malariaKasus malaria lebih dominan pada laki-laki (59%) dari pada perempuan (41%) dan golongan umur dewasa (> 15 tahun).  Spesies parasit yang ditemukan adalah Plasmodium vivax stadium ring (74%) dan stadium ring gametosit (26%).  Upaya pengendalian dapat dilakukan dengan peningkatan surveilans dan penemuan penderita sedini mungkin.
Key words : Prevalensi, Malaria, Peningkatan.

ABSTRACT
               Malaria has been becoming the main problem in Indonesia.  It’s can be seen by  the Annual Parasit Insiden (API) in Jawa and Bali at 2004 to 2008 that indicate 21,74‰, 19,61‰, 19,32‰, 16,44‰ and 13,8‰.  API in Banjarnegara is  0,38%.  Although it is low enough but on May, 2009 reports KLB malaria in Beji village, Sub District of Banjarmangu, Regency of Banajrnegara with 34 cases.
              This research was conducted to assess the increase of prevalence and distribution of malaria cases on Beji village, Sub District of Banjarmangu, Regency of Banajrnegara.  The blood samples were taken from  Bendawuluh vilagers, Beji village, Sub District of Banjarmangu, Regency of Banjarnegara.  The samples are those who have been predicted whether person with malaria symptoms or not but live together with the infected people.  Blood samples were mixed with 10% giemsa and observed with microscope.  The data were analized descriptivelely in the form of graph and table.
               Malaria cases that happened in Beji village, Sub District of Banjarmangu  show the increase of the cases 2 times than the last month so that it can be assumed as KLB with 34 victims that being infected by malaria.  The cases domination happened on adult man (59%) lower than woman (41%).  The species parasite which is being found was Plasmodium vivax whether on ring stadium (74%) or ring gametosit stadium (26%).  There are some ways can be done to control malaria, such as surveillance increasement and found the infected people as soon as possible.
Key words : Prevalensi, Malaria, Increase.
PENDAHULUAN
               Malaria masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang belum terselesaikan(2).  KLB (Kejadian Luar Biasa) malaria tahun 2000 terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia termasuk di Kabupaten Banjarnegara.
                Kabupaten Banjarnegara sebagai wilayah endemis malaria di Provinsi Jawa Tengah dengan angka kejadian malaria atau API (Annual Paracyte Insident) 3 tahun terakhir (tahun 2006 - 2008) yaitu 0,06‰, 0,05, 0,04 .  Meskipun  terjadi penurunan kejadian malaria di Kabupaten Banjarnegara, akan tetapi pada tahun 2009 pernah terjadi peningkatan kasus malaria  sebanyak 363 kasus.
              Dukuh Bendawuluh, Desa Beji, Kecamatan Banjarmangu merupakan daerah endemis malaria yang memberikan sumbangan terbesar terhadap angka kejadian malaria di Kabupaten Banjarnegara.  Peningkatan kasus terjadi pada bulan Mei 2009 dengan jumlah kasus 34 orang yang diperiksa positif malaria dengan Plasmodium vivax.  Kasus ini merupakan kasus impor yang berawal dari penderita asal Bangka Belitung yang terjadi pada bulan April dan di Desa Beji terdapat vektornya sehingga kasus ini dapat menyebar.  Setelah itu ditemukan adanya penderita malaria dalam bentuk Plasmodium vivax ring gametosit (Pvrg).
                Berdasarkan permasalahan tersebut maka dilakukan surveilans epidemiologi dengan melakukan pengambilan dan pemeriksaan sediaan darah tebal di Dukuh Bendawuluh.  Pengambilan sediaan darah dilakukan terhadap orang yang menunjukkan gejala malaria maupun orang yang sehat tetapi berada dalam satu rumah dengan penderita.

TUJUAN
Umum
                Mengetahui peningkatan prevalensi kasus malaria di Desa Beji, Kecamatan Banjarmangu.


Khusus
1.      Mengetahui distribusi kasus malaria berdasarkan waktu, tempat, dan orang.
2.      Mengetahui spesies parasit malaria di Desa Beji.
3.      Mengetahui Monthly Paracyte Incidence (MoPI) di daerah tersebut.

METODE
Lokasi Penelitian
                Kegiatan penelitian ini dilakukan di Desa Beji, Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten BanjarnegaraObjek penelitian ini adalah penduduk di Desa Beji dengan gejala malaria atau orang sehat yang satu rumah dengan penderita.

Pembuatan dan Diagnosis Sediaan Darah Tebal
              Cara membuat sediaan darah tebal yaitu dipegang jari manis atau tengah tangan kiri pasien dan ujung jari dibersihkan dengan kapas beralkohol.  Ujung jari bagian pinggir ditusuk dengan cepat menggunakan lanset.  Darah pertama yang keluar dibersihkan dengan kapas kering untuk menghilangkan sel darah yang membeku dan bebas dari alkohol.  Ujung jari ditekan sampai tetes darah yang kedua keluar.  Diambil 2 – 3 tetes darah dan ditempatkan pada kaca sediaan, kemudian tetes darah tersebut dihomogenkan dengan ujung kaca sediaan lain secara perlahan-lahan sampai menyatu dan membentuk bulatan dengan diameter ± 1 cm.  Kaca sediaan dikeringkan dalam suhu kamar.  Kaca sedian yang kering diletakkan di rak pewarnaan.  Larutan giemsa dibuat dengan perbandingan 1:7     (1 tetes giemsa dicampurkan dengan 7 tetes akuades) untuk satu sediaan darah.  Larutan giemsa dituangkan sampai menutupi seluruh permukaan sediaan darah dan diamkan selama ± 15 menit.  Kaca sediaan diangkat dan dibersihkan dengan air mengalir sampai semua endapan elemen-elemen zat warna terlepas.  Sediaan darah dikeringkan pada suhu kamar dan setelah kering pemeriksaan dapat dilakukan (3,4).
              Pemeriksaan sediaan darah dilakukan menggunakan mikroskop dengan perbesaran lensa obyektif 100x dan lensa okuler 10x.  Sediaan darah dinyatakan positif apabila ditemukan stadium Plasmodium dan negatif apabila dalam 100 lapang pandang tidak ditemukan stadium Plasmodium (5)Metode semi-kuantitatif untuk hitung parasit pada sediaan darah tebal adalah sebagai berikut (5) :
+          = 1-10 parasit per 100 lapang pandang.
++        = 11-100 parasit per 100 lapang pandang.
+++     = 1-10 parasit per 1 lapang pandang.
++++   = > 10 parasit per 1 lapang pandang.

Menghitung MoPI
                 Angka kasus malaria perbulan (MoPI) diperoleh dengan cara membagi jumlah kasus malaria positif satu bulan dengan jumlah seluruh penduduk pada bulan tersebut dikali 1000 penduduk.

MoPI =
Jumlah kasus malaria positif 1 bulan
x 1000
Jumlah penduduk pada bulan tersebut

HASIL DAN PEMBAHASAN
Distribusi Kasus Malaria berdasarkan waktu
                Jumlah penduduk di Desa Beji pada tahun 2009 adalah 2444 jiwa.  Hasil pengambilan sediaan darah terhadap 479 orang dengan gejala demam dan dinyatakan positif malaria 34 orang (hasil pemeriksaan mikroskop) sehingga didapatkan hasil SPR (slide positif  rate) 9,39 %.

Grafik 1. Frekuensi kasus Malaria per bulan di Desa Beji Tahun 2009

               Awal munculnya kasus malaria di Desa Beji yaitu pada bulan April dengan jumlah 15 kasus.  Selanjutnya, pada bulan Mei mengalami peningkatan sebanyak 34 kasus, pada bulan Juni sampai bulan Desember kasus berangsur-angsur menurun sampai akhirnya tidak terdapat kasus lagi.  Grafik 1 menunjukkan bahwa puncak penularan terjadi pada bulan Mei.  Penetapan kasus menjadi KLB di Desa Beji didasarkan pada data yang menunjukkan terjadinya peningkatan kasus 2 kali berturut-turut dari bulan sebelumnya.  Hasil pengambilan sediaan darah dari 479 penduduk, 34 dinyatakan positif malaria dan seluruhnya terdapat di Dukuh Bendawuluh.



Distribusi Kasus Malaria Berdasarkan Tempat
Tabel 1. Distribusi kasus Malaria menurut tempat tahun 2009
No
Tempat/Dukuh
Jumlah Kasus
Prosentase
1
Kalijambe
2
3,6%
2
Tiparan
0
0%
3
Krajan
0
0%
4
Bendawuluh
54
96,4%
Jumlah
56
100%

               Distribusi kasus malaria di Desa Beji tertinggi di Dukuh Bendawuluh yaitu 96,4 %.  Hal ini dapat dijelaskan bahwa awal terjadinya kasus dan penularan terjadi di Dukuh Bendawuluh dengan proporsi stadium ring terbanyak.  Sedangkan di dukuh lain yaitu Kalijambe hanya ada 2 kasus (3.6%) kasus malaria.

Distribusi Kasus Malaria Berdasarkan Jenis Kelamin dan Umur
 Tabel 2. Distribusi kasus Malaria menurut umur dan jenis kelamin
No
Golongan umur
Jenis kelamin
Jumlah
Prosentase
Laki-laki
Perempuan
1
< 1
0
1
1
2,9%
2
1 – 5
2
0
2
5,8%
3
6 – 10
4
1
5
14,7%
4
11 – 14
3
3
6
17,7%
5
> 15
11
9
20
58,9%
Jumlah
20
14
34
100%

Gambar 1. Proporsi kasus malaria berdasarkan jenis kelamin

               Penderita malaria terbanyak pada jenis kelamin laki-laki (59%) dibandingkan perempuan (41%).  Hal ini dapat dimengerti karena penduduk laki-laki lebih banyak memiliki aktifitas pada malam hari seperti ronda malam, pengajian, menonton TV sampai larut malam, sehingga kemungkinan untuk tergigit nyamuk vektor malaria lebih besar.
                Tabel 2 menunjukan golongan umur dewasa (> 15 tahun) lebih banyak yang terserang malaria.  Kasus malaria pada golongan umur 0-1 tahun  menunjukan masih terjadinya penularan setempat dan di dalam rumah.  

Proporsi spesies Plasmodium
Gambar 2. Proporsi Plasmodium vivax ring (Pvr) dan Plasmodium vivax ring  gametosit (Pvrg)

              Berdasarkan hasil pemeriksaan mikroskopis dapat diketahui bahwa kasus malaria di Desa Beji adalah P. vivaxP. vivax ditemukan dalam stadium ring dengan proporsi 74% (25 kasus) dan stadium ring gametosit dengan proporsi 26%  (9 kasus)Kasus malaria di Desa Beji dikatakan terlambat ditangani karena pada kasus pertama sampai ditemukan stadium gametosit di dalam sediaan darah penderita.  Keterlambatan penanganan kasus ini dapat menyebabkan penularan terhadap orang lain yang berada disekitarnya.  Prinsip dasar pengobatan malaria vivax adalah pengobatan radikal yang ditujukan terhadap stadium hipnozoid di sel hati dan stadium lain yang berada di eritrosit (5).  Malaria dengan P. vivax apabila tidak diobati secara tuntas menyebabkan  parasit Plasmodium yang ada dalam tubuh dapat hidup lebih lama dan dapat kambuh atau relaps.  Kasus relaps dapat terjadi apabila kondisi tubuh penderita malaria sedang tidak sehat.  Untuk mencapai stadium gametosit, P. vivax membutuhkan waktu yang cukup lama yaitu sekitar 12 – 17  hari (5).  Adanya penderita dalam stadium ring menunjukan masih terjadi penularan setempat sedangkan ditemukannya stadium gametosit penderita terlambat ditemukan.  Upaya pemutusan rantai penularan kasus dapat dilakukan dengan pengendalian vektor dan pengobatan pada penderita secara berkelanjutan. 

Grafik 2. MOPI Desa Beji 2009

                 Grafik 2 menunjukan MoPI Desa Beji pada bulan Mei 2009 adalah     13,9 ‰.  Angka MoPI berangsur-angsur menurun pada bulan selanjutnya seiring dengan menurunnya kasus malaria.
                  Berdasarkan analisis data diatas, tindakan yang paling tepat dilakukan untuk memutuskan rantai penularan malaria adalah dengan peningkatan penemuan kasus sedini mungkin dan survailans pengobatan yang berkelanjutan sehingga tidak menimbulkan kasus relaps.

KESIMPULAN
               Berdasarkan hasil penelitian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa kasus malaria di Desa Beji, Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara mengalami peningkatan pada awal bulan Mei tahun 2009, dengan jumlah kasus positif malaria sebanyak 34.  Penderita malaria lebih banyak menyerang laki-laki dengan golongan umur dewasa (> 15 tahun).  Kasus malaria berdasarkan spesiesnya disebabkan oleh Plasmodium vivax dengan proporsi stadium ring (74%) dan stadium ring gametosit (26%).  MoPI tertinggi pada bulan Mei sebesar 13,9‰.  Upaya yang dapat dilakukan untuk memutuskan rantai penularan adalah penemuan penderita sedini mungkin dan peningkatan survailans.

UCAPAN TERIMA KASIH
              Penulis mengucapkan terima kasih kepada Lokalitbang P2B2 Banjarnegara, Dinas Kesehatan Kabupaten Banjarnegara dan Puskesmas 2 Banjarmangu.  Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Desa Beji serta para teknisi yang telah membantu dalam penelitian ini.


DAFTAR PUSTAKA
(1)     Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit Dan Penyehatan Lingkungan.  2009.  Program Prioritas & Percepatan Pelaksanaan Program Pp & Pl Thn 2009.  Diakses 18 Februari 2010. hlm 7. http://www.depkes.go.id/downloads/newdownloads/rakerkesnas_2009/5_P2PL.pdf
(2)     Chadijah S., Y. Labatjo, T.A.Garjito, Y.Wijaya, Y.Udin. 2006. Efektifitas Diagnosis Mikroskopis Malaria Di Puskesmas Donggala, Puskesmas Lembasada, Dan Puskesmas Kulawi, Provinsi Sulawesi Tengah. Jurnal Ekologi Kesehatan 1 (5) : 385 – 394.
(3)     Depkes RI. 1999. Modul Parasitologi Malaria 2. Jakarta : Dirjen PPM dan    PLP. hlm 26-28.
(4)     Husaini, Makmur.  1992. Laboratorium Diagnostik Malaria Masa Kini. Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 80, 1992. hlm 150.
(5)  Inge Susanto, Wita Pribadi dalam Parasitologi Kedokteran. 2008.  Parasit  Malaria.  Jakarta : Balai Penerbit FKUI. hlm 198-199, 206.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar